Biografi Mangkunegara IV (1811-1881 M)
Kanjeng
Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro IV merupakan putra pasangan
Kanjeng Pangeran (KP) Hadiwijoyo I dengan Raden Ajeng Sekeli, lahir pada
tanggal 3 Maret 1811 di Surakarta, yang diberi nama RM Sudiro. Dari garis ayah, yaitu KP
Hadiwijoyo I adalah putra RMT Kusumodingrat, dan cicit dari KPA Hadiwijoyo
(Pangeran Seda ing Kaliabu) dan cucu dari Susuhunan Paku Buwana III. Sedangkan
dari garis ibu yaitu RA Sekeli merupakan putri dari Sri Mangkunegara II. Pada masa kanak-kanak, sejak dini
pada dirinya mulai ditanamkan pendidikan yang berlaku di lingkungan keraton,
yaitu pendidikan yang berorientasi pada pembentukan pola kelakuan yang sesuai
dengan adat-istiadat Jawa, karena dalam masyarakat tradisional proses pendidikan
berpangkal pada prinsip bahwa fungsi pendidikan adalah pelestarian tradisi
serta kontinuitasnya dari generasi ke generasi[1].
Sejak kecil
hingga berusia 10 tahun RM
Sudiro diasuh dan dididik oleh kakeknya yaitu KGPAA Mangkunegara II untuk
belajar agama, membaca, bahasa dan tulisan Jawa[2].
Selain itu juga belajar bahasa Belanda, tulisan latin dan pengetahuan lainnya
dari orang Belanda, diantaranya JFC Dr.Gericke[3] dan CF.Winter[4].
Setelah
sepuluh tahun menjalani proses sosialisasi dan enkulturasi di bawah pengawasan
Mangkunagara II, kemudian Raden Mas Sudira dititipkan kepada kakak sepupunya
Raden Mas Sarengat atau Pangeran Riya (kelak menjadi
Mangkunagara III) yang menganggapnya sebagai putra pertama karena belum
memiliki keturunan. Pada masa di bawah bimbingan Pangeran Riya inilah jiwa
kepujanggaan dan kesatriaan mulai ditanamkan pada diri Raden Mas Sudira. Seperti
putra bangsawan lainnya, Mas Sudira menjalani proses pendidikan yang penuh
dengan ajaran moral dalam nuansa budaya Jawa tradisional. Oleh karena tujuan
pendidikan pada waktu itu untuk mengembangkan kepribadian, maka oleh pangeran
Riya, Mas Sudira diberi pelajaran tentang etika, yaitu pelajaran tentang
bagaimana seseorang harus membawa diri, bersikap, dan melakukan
tindakan-tindakan agar dapat hidup menjadi pribadi yang baik[5].
Langkah awal yang dilakukan setelah diangkat menjadi
pimpinan Praja Mangkunegaran adalah menata pemerintahan yang berpedoman pada Panca Pratama, Hasta
Brata, dan berbagai ajaran yang
diperoleh dari kepustakaan barat dan jawa lainnya, yaitu:
1. Menata
kembali struktur organisasi
2. Menata
kegiatan bidang ekonomi
3. Menata
bidang sosial budaya dalam usaha menatap masa depan.
4. Menata dan
menyempurnakan tugas tugas Legiun Mangkunegaran
5. Melakukan
pembangunan dengan membangun perusahaan dan membangun berbagai fasilitas untuk
kepentingan kesejahteraan rakyat.
Sekalipun Sri Mangkunegoro IV banyak bergaul
dengan bangsa barat, namun sebagai pimpinan praja, beliau berusaha meneladani
raja –raja jawa yang baik. Sebagai tolak ukur raja yang baik dijumpai dalam
Serat Witaradya yang merupakan
karya dari sahabat dekatnya R.
Ng. Ronggowarsito dimana dikatakan bahwa seorang raja besar, baik dan bijaksana harus memenuhi
Panca Pratama atau lima hal baik, yaitu:
1. Mulat artinya waspada
dalam segala hal.
2. Amilala artinya
memelihara dengan baik hal-hal yang telah ada.
3. Amiluta, berbuat
baik agar setiap orang atau rakyat suka kepadanya.
4. Miladarma,
melaksanakan darma yang baik agar tercipta kesejahteraan lahir batin.
5. Palimarma, belas kasih,
suka memaafkan kepada orang yang bersalah.
Sri MN IV dan R. Ng. Ronggowarsito merupakan
pujangga yang paralel pada jamannya. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Sri MN IV sangat kuat dalam tataran
filosofisnya sedangkan R. Ng. Ronggowarsito menguasai kosa kata yang baik. Sri
MN IV tercatat sebagai salah satu filosof dunia, sebagaimana tercatat dalam “Le
dictionnaire De Philosophie”[6].
Untuk menata kedalam, Sri MN IV menciptakan Serat
Tripomo sebagai ajaran moral yang dijadikan kerangka acuan pemikiran bagi
beberapa pihak untuk memahami dan
menghargai karya pendahulunya. Himbauan berupa sanepo atau kiasan melalui syair
Serat Tripomo ditujukan kepada anggota masyarakat Mangkunegaran yang memiliki
kedudukan seperti pangeran, pimpinan prajurit, dan lain-lain dalam ukuran norma
orang jawa. Serat Tripomo merupakan satu model yang telah dibuktikan mampu
untuk memahami kondisi situasional yang dihadapi dan mengambil solusi sesuai
kadarnya.
Dengan mendasarkan pada keteladanan sebagaimana
tersurat pada Panca Pratama dan Hasta Brata maka Sri Mangkunegoro IV menata
pemerintahannya dengan gebrakan yang bersifat ragawi dan rohani. Hal tersebut
di antaranya ditunjukkan dengan adanya semacam ketetapan yang berisi; (1) arahan yang ditujukan kepada
para kerabat dan para sentono, dan (2) dikeluarkannya
Layang Pranatan tentang larangan suap tahun 1854. Konten pertama berisi catatan:
“Penguasa (raja) selalu dihubungkan dengan ucapannya
yang dianggap setinggi gunung, tidak dapat dibantah. Menjadi penguasa itu
berkat karunia Tuhan, cara yang digunakan bergantung pada kepribadian yang
dimiliki”.
“Kalau menjadi penguasa itu untuk memenuhi kebutuhan
hidup maka yang ditampilkan adalah keserakahan, berbuat kekerasan dan
menggunakan kekuatan. Tetapi jika menjadi penguasa untuk kesejahteraan umum
maka yang ditampilkan adalah darma, belas kasih, dan tanggung jawab. Sekarang
kebanyakan yang sudah menjadi penguasa menjadi lupa, tidak rela kehilangan
kedudukan”.
“Seseorang yang sudah dewasa dalam berpikir,
bijaksana dan memahami peraturan, jangan
takut jika diminta menjadi
penguasa”.
Kontan
ke dua berupa dikeluarkannya Layang Pranatan tentang larangan suap tahun 1854 M,
menuliskan:
“Segala
orang yang menginginkan kedudukan apakah
menjadi Ngabei, Demang, Rangga serta Bekel dilarang menyuap dengan uang atau
barang lain yang ada harganya”.
“Jika
berhasil memperoleh kedudukan, dilarang meminta uang jasa kepada bawahannya”.
“Barang
siapa melanggar perintah ini, yang memberi atau yang menerima suap akan
dikenakan hukuman setimpal dengan
kesalahan”.
Mangkunegara IV (1811-1881) seorang filsuf dan
budayawan abad ke 19 yang memiliki keahlian, kenegaraan, kemiliteran, sastra
budaya dan agama. Ajarannya tentang sembah (ibadah) dan budiluhur (akhlak) dari
kumpulan serat-serat piwulang, sesungguhnya berwujudan lain dari hubungan
manusia dengan Tuhannya, di mana mengharuskan manusia melakukan ibadah dalam
arti utuh secara total kepada Allah dalam bentuk ajaran sembah yang meliputi,
Sembah Raga, Sembah Cipta (kalbu), Sembah Jiwa dan Sembah Rasa, yang apabila
dibandingkan dengan Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat akan kelihatan
persamaannya baik bentuk maupun urutannya, meskipun formatnya berbeda.
Sedangkan ajaran budiluhur lebih menekankan pada hubungan manusia dengan
masyarakat dan lingkungannya.
[1] Endah
Susilantini, Titi Mumfangati, Suyami, Konsep
Sentral kepengarangan KGPAA Mangku Negara IV, editor Lindyastusi,
Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997, h. 43
[2]
Sejak masih anak-anak Sudira sudah dikenal kepandaian dan kecerdasannya. Dalam
Babad Mangkunagara IV diceritakan bahwa begitu lahir, R.M. Sudira diminta oleh
kakeknya, KGPAA Mangkunagara II untuk dijadikan putera angkatnya. Bayi yang
masih kecil itu diserahkan kepada selirnya yang bernama Mbok Ajeng Dayaningsih
untuk diasuh. R.M. Sudira pada masa kecilnya tidak mendapatkan pendidikan
formal, pendidikan diberikan secara privat. R.M. Sudira juga mendapatkan
tuntunan dari orang-orang Belanda yang didatangkan oleh KGPAA Mangkunagara II,
yang selain untuk menuntun Pangeran Riya yang dipersiapkan sebagai K.P. Prangwadana
III, juga ditugasi mendidik R.M. Sudira terutama dalam hal pengajaran bahasa
Belanda, tulisan Latin dan pengetahuan lainnya. Di antara gurunya adalah Dr. J.F.C. Gericke dan C.F. Winter.
Lengkap silsilah Mangkunegara IV lihat dalam web resmi kerajaan Surakarta di
http://www.mangkunegara4.org/index.php/silsilah
[3]
Johann Friedrich Carl Gericke atau J.F.C. Gericke (Brandenburg, Prusia, 1798 - Leiden, Belanda, 1857)
adalah seorang pakar sastra dan bahasa Jawa.
Jasanya yang utama ialah bahwa Gericke yang mendirikan Instituut der
Javaansche Taal te Soerakarta atau "Lembaga Bahasa Jawa di Surakarta"
pada tanggal 29 Oktober 1832.
Lembaga ini adalah yang pertama di Hindia-Belanda.
Selain itu Gericke juga dikenal sebagai orang pertama yang menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Jawa. Ia diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschap ke Indonesia.
Selain itu ia juga dikenal sebagai salah satu bapak peneliti literatur Jawa
dari Belanda. Hooker, M.B. Islam
in South-East Asia, BRILL,
1988, h.
23. Bandingkan dengan Nancy K.
Florida, Javanese Literature in Surakarta Manuscripts: Introduction and
manuscripts of the Karaton Surakarta, Florida,
ISBN 0877276005, SEAP Publications, 1993, h. 13
[4] Carel Frederik Winter, Sr. (1799-1859) atau
lebih dikenal dengan C.F. Winter adalah linguis Hindia-Belanda yang banyak bekerja sama dengan Ranggawarsita dalam menulis berbagai kitab pertama yang
menghubungkan kesusasteraan Jawa dan Barat. Winter adalah seorang Indo yang ditugaskan untuk mendalami sastra Jawa
oleh pemerintah kolonial. Pada gilirannya, ia bersahabat dengan Ranggawarsita,
pujangga dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Hubungan keduanya kemudian
bersifat mutualis. Karya abadinya adalah Kawi-Javaansch woordenboek
(Kamus Kawi-Jawa), yang versi terjemahan ke dalam bahasa
Indonesianya
diterbitkan tahun 1983.
[5] Pada
tanggal 24 Maret 1853
RM Sudiro namanya menjadi Pangeran Arya Gondokusumo diangkat menjadi
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Prabu Prangwadono IV. Dan pada 16 Agustus
1857 KPAA Prangwadono IV ditetapkan
menjadi KGPAA Mangkunegoro IV dan diwisuda menjadi Kolonel Legiun
Mangkunegaran. Selain etika dan kebudayaan Jawa, ia juga diberi pelajaran agama
Islam, karena hidup di lingkungan yang telah memiliki tradisi keagamaan yang
telah mapan. Menurut pengakuan Raden Mas Sudira seperti dituturkan dalam Serat
Wedhatama, ia sangat tertarik pada pelajaran agama Islam. Sebagai
manifestasi dari hasratnya untuk belajar ilmu agama, ia kemudian berguru kepada
para ulama. Akan tetapi, sebagai bangsawan, Raden Mas Sudira dihadapkan pada
pilihan lain, yaitu harus mengabdikan diri pada tugas-tugas dalam bidang
pemerintahan. Lihat web resmi kerajaan Surakarta
http://www.mangkunegara4.org/index.php/silsilah
[6] Sri Mangkunegoro IV bersahabat
sangat dekat dengan Raden Ngabehi (R.Ng) Ronggowarsito, seorang pejangga
keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Ronggowarsito lahir hari Senin Legi 15
Maret 1802 M, dan wafat 15 Desember 1873 M, pada hari Rabu Pon. Pujangga yang
juga besar di lingkungan kraton Surakarta ini namanya terkenal karena dialah
yang menggubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara itu. Hingga
sekarang kitab ramalan ini masih menimbulkan kontroversi. R. Ng. Ronggowarsito
terlahir dengan nama kecil Bagus Burhan pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra
dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan
satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil.
Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke
Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.
Daftar Pustaka
al-Qur’an
al-Karîm.
Ardani, Moh.. 1995. Al
Qur’an dan Sufisme Mangkunagara IV: Studi Serat-serat Piwulang. Yogyakarta:
Dana Bhakti Wakaf.
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah
(w 430 H), Hilyah al-Auliyâ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr,
Bairut
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali ibn Hajar, Fath
al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq
Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dâr al-Hadîts, 1998 M
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats
ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq
Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M.
Baghdadi, al, Abu Manshur ‘Abd al-Qahir ibn
Thahir ( W 429 H), al-Farq Bain al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3,
1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Baihaqi, al, Abu Bakr ibn al-Husain ibn ‘Ali
(w 458 H), al-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakr ibn as-Sayyid
Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh
Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât
al-Marâm Min ‘Ibârât al-Imâm, tahqîq Yusuf ‘Abd al-Razzaq
(Dosen Usuluddin al-Azhar Cairo), cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa
al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahih
al-Bukhari, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dzahabi, al, Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman,
Abu Abdillah, Syamsuddin, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syau’ib
al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah al-Risalah,
1413 H.
_________, Mizân al-I’tidâl Fi Naqd
al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan ‘Adil Ahmad ‘Abd
al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
Dimyathi, al, Abu Bakr as-Sayyid Bakri ibn
as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj
al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t.
th.
Endah
Susilantini, Titi
Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral kepengarangan KGPAA Mangku Negara IV,
editor Lindyastusi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad
ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’in Fi Ushul al-Dîn, cet.
1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad,
Dar al-Fikr, Bairut
Haitami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki,
Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhain,
Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf,
Abu Abdurrahman, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001,
Dar al-Masyari’, Bairut.
Ibn Balabban, Muhammad ibn Badruddin ibn
Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh
Ibn Hibban, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Ibn al-Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman ibn
al-Jauzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban,
Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
_________, Shayd al-Khâthir, tahqîq
Usamah as-Sayyid, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah. Cet. 4, Bairut
Ibn as-Subki, Abu Nashr Tajuddin Abdul Wahhab
ibn Ali ibn ‘Abd al-Kafi (w 771 H), Thabaqât asy-Syafi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abdul Fattah Muhammad al-Huluw dan Mahmud Muhammad ath-Thanji, t. th, Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Iyadl, Abu al-Fadl ‘Iyyâdl ibn Musa ibn Iyadl
al-Yahshubi, al-Syifâ Bi Ta’rif Huqûq al-Musthafâ, tahqîq
Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa
al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshir
Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiah Min al-Firaq al-Hâlikin, ta’lîq
Muhammad Zâhid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abdul Qadir ibn Musa ibn Abdullah,
Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub
al-Bukhari, Abu Bakr (w 380 H), al-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf,
tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah
al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1976. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Kartodirdjo, Sartono.
1992. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia.
Magnis-Suseno,
Franz. 1999. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan
Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Dîn,
Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât
al-Auliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj,
al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404 H.
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu
Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjaj,
Cairo, al-Maktab al-Tsaqafi, 2001 H.
Qusyairi, al, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim ibn
Hawazan an-Naisaburi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf
Zuraiq dan ‘Ali ‘Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Rifa’i, al, Abu al-’Abbas Ahmad ar-Rifa’i
al-Kabir ibn al-Sulthan ‘Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1,
1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, al, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr
al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghaib, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, al, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq
‘Abd al-Halim Mahmud dan Thaha ‘Abd al-Bâqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah
al-Diniyyah, Cairo Mesir
Sya’rani, al, Abdul Wahhab, ath-Thabaqât
al-Qubrâ, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn
Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub
al-‘Arabiyyah, t. th.
Suhrawardi, al, Awârif al-Ma’ârif, Dar
al-Fikr, Bairut
Syahrastani, al, Muhammad ‘Abd al-Karim ibn
Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil
al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, al, Abu Abdurrahman Muhammad Ibn
al-Husain (w 412 H), Thabaqat ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa
Abdul Qadir ‘Atha, Mansyurat ‘Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, al, Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi
Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail,
Bairut.
Thabarani, al, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub,
Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf
Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
Tirmidzi, al, Muhammad ibn Isa ibn Surah
as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, t. th.
Web:
Web resmi Kerajaan Mangkunegara; http://www.mangkunegara4.org/
Daftar Pustaka
al-Qur’an
al-Karîm.
Ardani, Moh.. 1995. Al
Qur’an dan Sufisme Mangkunagara IV: Studi Serat-serat Piwulang. Yogyakarta:
Dana Bhakti Wakaf.
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah
(w 430 H), Hilyah al-Auliyâ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr,
Bairut
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali ibn Hajar, Fath
al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq
Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dâr al-Hadîts, 1998 M
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats
ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq
Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M.
Baghdadi, al, Abu Manshur ‘Abd al-Qahir ibn
Thahir ( W 429 H), al-Farq Bain al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3,
1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Baihaqi, al, Abu Bakr ibn al-Husain ibn ‘Ali
(w 458 H), al-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakr ibn as-Sayyid
Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh
Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât
al-Marâm Min ‘Ibârât al-Imâm, tahqîq Yusuf ‘Abd al-Razzaq
(Dosen Usuluddin al-Azhar Cairo), cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa
al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahih
al-Bukhari, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dzahabi, al, Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman,
Abu Abdillah, Syamsuddin, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syau’ib
al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah al-Risalah,
1413 H.
_________, Mizân al-I’tidâl Fi Naqd
al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan ‘Adil Ahmad ‘Abd
al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
Dimyathi, al, Abu Bakr as-Sayyid Bakri ibn
as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj
al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t.
th.
Endah
Susilantini, Titi
Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral kepengarangan KGPAA Mangku Negara IV,
editor Lindyastusi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad
ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’in Fi Ushul al-Dîn, cet.
1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad,
Dar al-Fikr, Bairut
Haitami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki,
Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhain,
Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf,
Abu Abdurrahman, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001,
Dar al-Masyari’, Bairut.
Ibn Balabban, Muhammad ibn Badruddin ibn
Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh
Ibn Hibban, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Ibn al-Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman ibn
al-Jauzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban,
Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
_________, Shayd al-Khâthir, tahqîq
Usamah as-Sayyid, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah. Cet. 4, Bairut
Ibn as-Subki, Abu Nashr Tajuddin Abdul Wahhab
ibn Ali ibn ‘Abd al-Kafi (w 771 H), Thabaqât asy-Syafi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abdul Fattah Muhammad al-Huluw dan Mahmud Muhammad ath-Thanji, t. th, Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Iyadl, Abu al-Fadl ‘Iyyâdl ibn Musa ibn Iyadl
al-Yahshubi, al-Syifâ Bi Ta’rif Huqûq al-Musthafâ, tahqîq
Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa
al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshir
Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiah Min al-Firaq al-Hâlikin, ta’lîq
Muhammad Zâhid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abdul Qadir ibn Musa ibn Abdullah,
Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub
al-Bukhari, Abu Bakr (w 380 H), al-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf,
tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah
al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1976. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Kartodirdjo, Sartono.
1992. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia.
Magnis-Suseno,
Franz. 1999. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan
Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Dîn,
Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât
al-Auliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj,
al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404 H.
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu
Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjaj,
Cairo, al-Maktab al-Tsaqafi, 2001 H.
Qusyairi, al, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim ibn
Hawazan an-Naisaburi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf
Zuraiq dan ‘Ali ‘Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Rifa’i, al, Abu al-’Abbas Ahmad ar-Rifa’i
al-Kabir ibn al-Sulthan ‘Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1,
1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, al, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr
al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghaib, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, al, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq
‘Abd al-Halim Mahmud dan Thaha ‘Abd al-Bâqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah
al-Diniyyah, Cairo Mesir
Sya’rani, al, Abdul Wahhab, ath-Thabaqât
al-Qubrâ, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn
Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub
al-‘Arabiyyah, t. th.
Suhrawardi, al, Awârif al-Ma’ârif, Dar
al-Fikr, Bairut
Syahrastani, al, Muhammad ‘Abd al-Karim ibn
Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil
al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, al, Abu Abdurrahman Muhammad Ibn
al-Husain (w 412 H), Thabaqat ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa
Abdul Qadir ‘Atha, Mansyurat ‘Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, al, Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi
Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail,
Bairut.
Thabarani, al, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub,
Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf
Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
Tirmidzi, al, Muhammad ibn Isa ibn Surah
as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, t. th.
Web:
Web resmi Kerajaan Mangkunegara; http://www.mangkunegara4.org/
Comments
Post a Comment