Ajaran Tasawuf di Masa al-Khulafâ’ al-Râsyidîn
Walau penamaan
tasawuf belum dikenal pada awal-awal kemunculan Islam, namun ajaran-ajaran yang
diusung dalam tasawuf adalah ajaran-ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan
hadits. Karena itu kita mendapati prilaku-prilaku kaum sufi hampir sepenuhnya
diambil dari prilaku-prilaku Rasulullah dan para sahabatnya. Sikap zuhud yang
ditradisikan oleh kaum sufi bukan sesuatu yang baharu atau sesuatu yang tidak
memiliki dasar dalam Islam. Justru sebaliknya, apa-pun yang dilakukan oleh kaum
sufi adalah sebagai bentuk pengamalan yang menyeluruh terhadap ajaran-ajaran
Islam itu sendiri.
Dalam
al-Qur’an Allah berfirman:
وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) (النازعات)
“Dan adapun
orang yang takut akan tuhannya dan ia mencegah diri dari hawa nafsunya maka
surga adalah tempat kembalinya”. (QS. al-Nâzi’ât:
40-41)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah berpesan kepada sahabat
Mu’adz ibn Jabal:
إيّاكَ وَالتّنَعُّمَ
فَإنّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوْا بِالْمُتَنَعِّمِيْنَ (روَاهُ الطّبَرَانيّ)
“Hindarilah
olehmu untuk bersenang-senang, karena para hamba Allah itu bukanlah orang-orang
yang bersenang-senang”. (HR. al-Thabarani)
Secara
praktis prilaku-prilaku zuhud yang dilakukan oleh kaum sufi sebenarnya
merupakan ajaran-ajaran yang telah dipraktekan oleh Rasulullah sendiri di
hadapan para sahabatnya. Kita mendapati gambaran tentang pribadi Rasulullah
sebagai makhluk Allah yang paling mulia bahwa beliau adalah sosok yang sangat
lemah lembut, kebanyakan waktunya duduk bersama orang-orang fakir, miskin,
janda-janda renta dan memenuhi kebutuhan mereka, menengok orang-orang yang
sakit dari mereka, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri,
menjahit sandal dan pakaian yang robek dengan tangan sendiri, memerah susu
kambing atau binatang lainnya dengan tangan sendiri, bila menunggang unta atau
tunggangan lainnya tidak segan untuk memboncengkan pembantunya atau seorang hamba
sahaya bersamanya, tidak pernah menolak bila diminta darinya suatu apapun dari
harta dunia, berpakaian sangat sederhana, terkadang tidur dengan hanya
beralaskan tikar dari daun-daun kurma yang kasar, dan berbagai sifat zuhud
lainnya. Padahal beliau adalah makhluk Allah yang paling dicintai oleh-Nya dan
paling dimuliakan[1].
Demikian pula
sikap zuhud ini telah dipraktekan oleh para sahabat Rasulullah yang notabene
teladan bagi kehidupan orang-orang Islam secara keseluruhan. Para sahabat
tersebut adalah orang-orang yang telah dijanjikan oleh Allah untuk mendapatkan
keridlaan-Nya, Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ (التوبة: 100)
“Dan orang-orang
terkemuka dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang mengikuti
mereka dengan kebaikan Allah telah meridlai mereka dan mereka telah meridlai
Allah”. (QS. al-Taubah: 100)
Dalam sebuah
hadits, Rasulullah bersabda:
أصْحَابِيْ كَالنّجُوْمِ بِأيّهِمْ اقْتَدَيْتُمْ
اهْتَدَيْتُمْ (رَوَاهُ البَيهَقِيّ)
“Para Sahabatku
laksana bintang-bintang, dengan manapun kalian mengikuti maka kalian akan
mendapatkan petunjuk”. (HR. al-Baihaqi)
Al-Sarraj dalam al-Luma’
menyatakan bahwa para sahabat Rasulullah adalah sebagai teladan bagi setiap
pribadi muslim, baik secara zahir maupun secara batin. Teladan secara zahir
jelas tersuratkan dalam beberapa hadits Rasulullah. Artinya secara kasat mata
teladan dan keutamaan tersebut dapat terlihat. Salah satunya dalam sebuah
hadits, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang paling tinggi dalam sifat kasih
dan sayang adalah sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq, yang paling kuat dalam agama
Allah adalah sahabat Umar ibn al-Khattab, yang paling banyak memiliki sifat
malu adalah sahabat Utsman ibn Affan, yang paling ahli dalam farâ-idl (hukum
waris) adalah sahabat Zaid ibn Tsabit, yang paling mengetahui tentang hukum
halal dan haram adalah sahabat Mu’adz ibn Jabal, yang paling ahli dalam qirâ’at
adalah sahabat Ubay ibn Ka’ab, yang paling bijaksana dalam menentukan hukum
adalah Ali ibn Abi Thalib, dan yang paling jujur adalah sahabat Abu Dzarr. (HR.
Ahmad, al-Tirmidzi, dan al-Thabarani). Selain teladan
secara zahir, para sahabat Rasulullah tersebut juga sebagai teladan bagi setiap
pribadi muslim secara batin. Artinya bahwa terdapat teladan-teladan yang
merupakan rahasiah-rahasiah tersirat pada pribadi-pribadi para sahabat tersebut[2].
Di bawah ini kita
akan melihat kehidupan al-Khulafâ’ al-Râsyidîn yang merupakan para
pemimpin terkemuka dalam sejarah Islam yang akan tetap berlaku sebagai teladan
sepanjang masa, bahwa kehidupan mereka penuh dengan ajaran-ajaran tasawuf.
Tentang keharusan bagi kita untuk menjadikan mereka sebagai teladan, Rasulullah
bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنّتِيْ وَسُنّةِ الْخُلَفَاءِ الرّاشِدِيْنَ
الْمَهْدِيّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ (رَوَاه التّرْمِذِيّ)
“Handaklah kalian
mengikuti sunnahku dan sunnah al-Khulafâ’ al-Râsyidîn sesudahku yang telah
mendapatkan petunjuk”. (HR. al-Tirmidzi)
Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq
diriwayatkan bahwa suatu ketika berkata:
“Terdapat tiga ayat dalam al-Qur’an
yang telah benar-benar tertanam dalam hatiku dibanding ayat-ayat lainnya.
Pertama adalah firman Allah:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ
فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ (الأنعام: 17)
“Jika Allah
berkehendak menimpakan kepadamu akan suatu marabahaya maka tidak ada siapapun
yang dapat menghindarkan marabahaya tersebut kecuali Dia, dan jika Allah
berkehendak kepadamu akan suatu kebaikan maka Dia maha kuasa di atas segala
sesuatu”. (QS al-An’am: 17).
Dari ayat ini aku mengetahui bahwa
siapapun yang berkehendak akan kebaikan bagiku maka tidak akan ada yang dapat
menahan kebaikan tersebut kecuali Allah. Dan siapapun yang berkehendak kepadaku
untuk membuat marabahaya maka tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya
kecuali Allah. Kedua adalah firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: 152)
“Maka ingatlah
kalian kepada-Ku maka Aku akan mengingat kalian” (QS. al-Baqarah: 152).
Karena ayat ini maka aku selalu
menyibukan diri dengan dzikir kepada Allah dari pada mengingat hal-hal apapun.
Ketiga adalah firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ
إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (هود: 6)
“Dan tidak ada suatu apapun yang melata di bumi kecuali atas
Allah ketentuan rizki mereka”. (QS. Hud: 6).
Selain teladan pada sahabat Abu Bakr, pada sosok sahabat
Umar ibn al-Khattab juga terdapat teladan yang sangat agung yang menjadi
tumpuan kaum sufi di kemudian hari. Beliau adalah sahabat yang digelari oleh
Rasulullah sebagai seorang yang al-Muhaddats dan al-Mukallam.
Artinya beliau memiliki karamah yang sangat agung; ialah dikaruniai kekuatan
firasat. Bukti konkrit dari karamah ini adalah peristiwa Sariyah ibn Zunaim
yang sedang berperang melawan orang-orang kafir di daerah Nahawand. Saat itu
Umar ibn al-Khattab sedang menyampaikan
khutbah di hadapan orang-orang Islam di Madinah. Di tengah-tengah khutbahnya
tiba-tiba Umar berteriak: “Yâ Sâriyah, al-Jabal..., al-Jabal...!”. Umar
memerintahkan Sariyah dan pasukannya untuk berlindung di pegunungan dari serbuan
orang-orang kafir. Perintah Umar tersebut didengar dan dipatuhi oleh Sariyah
dan tentaranya hingga meraih kemenangan. Padahal jarak Kota Madinah dan
Nahawand beratus kilometer.
Dalam citra tawakkal yang merupakan salah satu pijakan
kuat kaum sufi, diriwayatkan bahwa sahabat Umar ibn al-Khattab suatu ketika
berkata: “Tidak ada musibah sebesar
apapun yang menimpaku, kecuali aku telah dikaruniai oleh Allah akan empat hal
terkait dengan musibah tersebut. Yaitu bahwa musibah tersebut tidak menimpa
dalam urusan agamaku, musibah tersebut tidak memberikan pengaruh kepadaku, dan
aku selalu memiliki sikap ridla dalam menghadapinya, serta aku selalu
mengharapkan mendapatkan pahala dari adanya musibah tersebut”[4].
Al-Sarraj
berkata:
“Para ahli
hakekat dari kaum sufi banyak mengambil teladan dari sahabat Umar ibn al-Khattab,
di antaranya bahwa beliau hanya berpakaian yang telah banyak tambalan, terbiasa
hidup sulit (menghindarkan diri dari kenikmatan), meninggalkan segala syahwat
dan hawa nafsu diniawi, menghindarkan segala yang samar (syubhat),
memiliki banyak karamah, tidak peduli terhadap cacian saat menegakan kebenaran
dan menghancurkan kebatilan, menyeragamkan hak orang lain baik keluarga dekat
maupun jauh, memegang teguh ketaatan walau yang paling keras sekalipun, dan
menghindari segala keburukan walau yang paling sulit sekalipun, serta berbagai sifat lainnya”[5].
Selain sahabat Umar ibn al-Khattab, dalam diri sahabat
Utsman ibn Affan juga terdapat banyak pelajaran yang kemudian dijadikan
referensi oleh para ulama sufi. Citra tertinggi yang menjadi rujukan kaum sufi
dari sosok Utsman ibn Affan adalah kekuatan keteguhan (Quwwah at-Tamkîn).
Sifat ini, sebagaimana dinyatakan al-Sarraj, merupakan salah satu derajat
tertinggi dalam tingkatan ahwâl kaum sufi. Tanda seseorang dalam
tingkatan ahwâl ini adalah ia lebih menyenangi untuk mendermakan
apa yang ia miliki kepada orang lain dari pada menahannya bagi dirinya sendiri.
Citra Quwwah at-Tamkîn inilah yang ada pada sosok
Utsman ibn Affan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah membiayai bala tentara
orang-orang Islam, bahkan membeli sumur Roumah yang kemudian disadaqahkannya
bagi kemaslahatan seluruh orang-orang Islam. Oleh karena sifat ini, Utsman ibn
Affan kemudian mendapatkan jaminan dari Rasulullah dalam sabdanya:
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا فَعَلَ بَعْدَ هَذَا (رَوَاهُ
البُخَارِيّ وَالتّرمِذِيّ)
“Tidak akan
membuat bahaya terhadap Utsman apapun yang ia kejakan setelah ini”. (HR.
al-Bukhari dan al-Tirmidzi).
Benar bahwa Utsman ibn Affan adalah salah seorang sahabat
yang diberi karunia oleh Allah dengan rizki yang cukup luas, namun sedikitpun
jiwa beliau tidak terkait dengan apa yang ada di tangannya tersebut. Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa beliau suatu ketika menitipkan satu kantong penuh
berisikan uang 1000 dirham kepada salah seorang budaknya untuk disampaikan
kepada sahabat Abu Dzarr. Utsman berkata kepada budak tersebut: “Jika ia (Abu
Dzarr) telah menerima pemberianku ini maka engkau menjadi merdeka”. Ini
menunjukan Quwwah at-Tamkîn yang ada pada pribadi Utsman. Sebab prilaku
semacam ini tidak akan pernah nampak kecuali dari seorang yang telah memiliki
citra ma’rifah, tawakal, istiqamah dan kayakinan yang sangat kuat kepada
Allah[6].
Demikian pula referensi ahwâl dari sosok
sahabat Ali ibn Abi Thalib sangat banyak terpancar. Bahkan Ali ibn Abi Thalib
merupakan sosok sentral dalam perjalanan tasawuf, karena beliau merupakan salah
satu pucuk sanad yang mengambil dari Rasulullah dalam rangkaian mata rantainya.
Karenanya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang menjadi sumber ajaran tasawuf
berasal dari sahabat Ali ibn Abi Thalib, walaupun di masanya beliau banyak
disibukan dengan berbagai peperangan menghadapi kaum pemberontak. Tentang
ini al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Seandainya Ali ibn Abi Thalib tidak disibukan dengan peperangan maka ia akan
memberikan pelajaran kepada kita dari ahwâl-nya lebih banyak
lagi. Karena beliau adalah seorang yang telah dikarunia al-‘Ilm al-Ladunni.
Dan al-‘Ilm al-Ladunni adalah ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah
kepada al-Khadlir”[7].
Bahkan dalam penilaian al-Sarraj bahwa orang yang pertama
kali secara gamblang berbicara tentang maqâmât dan ahwâl
yang kemudian menjadi bagian krusial dalam kajian tasawuf adalah sahabat Ali
ibn Abi Thalib. Di antara maqâmât yang sangat urgen dan menjadi rujukan
kaum sufi adalah perkataan beliau tentang tauhid. Bahwa suatu ketika Ali ibn
Abi Thalib ditanya: “Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?”. Dengan jawaban yang
sangat lugas beliau berkata:
“Aku mengenal
Tuhanku sebagaimana Dia memperkenalkan tentang Diri-Nya kepadaku. Bahwa Dia
tidak menyerupai bentuk apapun [artinya Allah bukan benda], Dia tidak dapat
diraih dengan indra, Dia tidak dapat dikiyaskan dengan manusia, Dia dekat pada
jauh-Nya dan jauh pada dekat-Nya [artinya ada tanpa tempat dan tanpa arah], Dia
di atas segala sesuatu dan tidak ada apapun di bawah-Nya, Dia di bawah segala
sesuatu dan tidak ada apapun di atas-Nya, Dia di hadapan segala sesuatu dan
tidak ada suatu apapun di hadapan-Nya [artinya Alah tidak diliputi oleh enam
arah penjuru], Dia tidak seperti suatu apapun, Dia bukan dari suatu apapun,
Maha Suci Dia yang memiliki sifat semacam ini. Dan sifat-sifat-Nya ini tidak
dimiliki oleh siapapun, selain Dia”[8].
Diriwayatkan pula bahwa suatu ketika, Ali ibn Abi Thalib
berdiri di hadapan timbunan harta kas negara. Seraya berkata: “Wahai barang
kuning (yang dimaksud adalah emas), wahai barang putih (perak), kalian berdua
tidak akan dapat mengelabui diriku!!”[9].
Juga diriwayatkan bahwa seringkali sahabat Ali ibn Abi
Thalib ini bekerja dengan tangannya sendiri untuk mendapatkan upah. Terkadang
upah yang beliau raih adalah hanya segenggam kurma yang kemudian oleh beliau
sendiri dibawa ke hadapan Rasulullah untuk dimakan bersamanya[10].
Dalam satu kesempatan sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata:
“Segala kebaikan
terkumpul dalam empat perkara; diam (ash-Shamt), bicara (an-Nuthq),
melihat (an-Nazhar) dan bergerak (al-Harakah). Setiap
pembicaraan yang bukan dalan dzikir kepada Allah maka itu adalah sebuah
kesia-siaan belaka. Setiap diam yang bukan dalam tafakkur maka itu adalah
sebuah kealfaan. Setiap penglihatan yang tidak mengambil pelajaran di dalamnya
maka itu adalah sebuah kelalaian. Dan setiap gerak yang bukan dalam ibadah
kepada Allah maka itu adalah pemborosan waktu. Maka hamba yang mendapat rahmat
Allah adalah yang menjadikan bicaranya adalah dzikir, diamnya adalah tafakkur,
pandangannya adalah mengambil pelajaran, dan geraknya adalah ibadah, serta
seluruh manusia selamat dari tindakan tangan dan lidahnya”[11].
Demikian
pula praktek ajaran-ajaran tasawuf telah dicontohkan oleh para sahabat lainnya.
Simak misalkan sabda Rasulullah kepada salah seorang sahabatnya, Bilal ibn
Rubah:
أنْفِقْ يَا بِلاَلُ وَلاَ
تَخْشَ مِنْ ذِي اْلعَرْشِ إقَلاَلاً (رَوَاهُ الطّبَرَانِيّ وأبُوْ نُعَيْمٍ)
“Nafkahkanlah
hartamu wahai Bilal, janganlah engkau takut kefakiran dari Tuhan Pemiliki
Arsy”. (HR. al-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Dalam
kisah lain kita mendapati salah seorang sahabat nabi yang memberikan makanan
kepada tentangganya walau ia sendiri dalam keadaaan lapar. Ia menganggap bahwa
tetangganya lebih berhak atas makanan tersebut. Namun tetangganya yang juga
lapar memberikan makanan itu kepada tetangganya yang lain, karena menganggap
tetangganya tersebut lebih berhak dari dirinya. Lalu tetangganya tersebut
memberikannya kepada tetangganya yang lain lagi, dan demikian seterusnya
berputar hingga makanan tersebut kembali tangan yang pertama. Tentang
sifat-sifat para sahabat nabi tersebut Allah berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ
بِهِمْ خَصَاصَةٌ (الحشر: 9)
“Dan mereka
(kaum Anshar) mengutamakan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka
sendiri, sekalipun dalam diri mereka sangat membutuhkan”. (QS al-Hasyr: 9)
Kemudian
perhatikan pula pernyataan sahabat Abu Hurairah ketika menggambarkan Ahl
al-Shuffah, komunitas sahabat nabi dari kaum Muhajirin yang sama sekali
tidak memiliki harta benda. Abu Hurairah menyebutkan bahwa mereka seringkali
bergeletakan di tanah karena lapar dan dahaga yang mereka rasakan, hingga
orang-orang Arab baduy menganggap mereka orang-orang yang telah gila. Inilah
sikap mendahulukan akhirat (al-Itsâr ‘Alâ al-Âkhirah) yang telah
dicontohkan oleh para sahabat[12].
[1] Dalam sebuah
hadits diriwayatkan ketika sahabat Umar ibn al-Khattab masuk ke rumah
Rasulullah, ia mendapati Rasulullah baru bangun dari tidur, sementara pada
bahunya terdapat bekas dari tikar kasar yang beliau jadikan alas untuk tidurnya
tersebut. Melihat kondisi ini sahabat Umar menangis. Ketika ditanya oleh
Rasulullah apa yang membuatnya menangis, sahabat Umar menjawab: “Saya teringat
Kaisar Romawi dengan segala kemewahan kerajaannya, Hurmuz dengan kebesaran
kerajaannya, serta raja Habasyah dan kebesaran kekuasaannya, sementara engkau
yang padahal utusan Allah hanya tidur di atas tikar yang terbuat dari daun kurma
yang kasar!”. Rasulullah menjawab: “Tidakkah engkau ridla bahwa mereka memiliki
dunia, sementara kita memiliki akhirat?!”. (HR. Ibn al-Mundzir dari sahabat
Ikrimah). al-Sarraj, al-Luma’…, h. 19-20
[2] Contoh yang paling konkrit seperti yang dinyatakan oleh Abu Utbah
al-Hulwani, berkata: “Maukah kalian aku beritahukan apa yang menjadi keinginan
para sahabat Rasulullah di masa mereka hidup?! Pertama; Mereka lebih menyenangi
untuk segera bertemu Allah dari pada menjalani hidup (artinya menyenangi
kematian). Ke dua; Mereka tidak pernah merasa gentar saat menghadapi musuh,
baik dalam jumlah yang sedikit maupun jumlah besar. Ke tiga; Mereka sedikitpun
tidak memiliki kekhawatiran terhadap dunia, meraka adalah orang-orang yang
penuh kepercayaan dalam masalah rizki kepada Allah. Ke empat; Jika didatangi
musibah paceklik atau wabah penyakit mereka tidak bergeser sedikitpun dari
tempat mereka hingga Allah menentukan apa yang telah dikehendaki-Nya atas
mereka, dan mereka sama sekali tidak takut kepada kematian karenanya. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 166-167
[3] al-Sarraj, al-Luma’…, h.
171-172. Hakekat tauhid, tafrîd, dan tawakal juga
benar-benar tercermin dalam perilaku sahabat Abu Bakr. Salah seorang sufi
kenamaan; Abu Bakr al-Wasithi mengatakan bahwa istilah-istilah yang berkembang
di kalangan kaum sufi pertama kali muncul adalah ungkapan yang keluar dari
lidah sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq. Dari ungkapan sahabat Abu Bakr inilah di
kemudian hari para ulama sufi mengambil hikmah-hikmah dan istilah-istilah yang
terkadang tidak dipahami oleh orang-orang yang berakal yang bukan dari
komunitas mereka. Al-Sarraj mengatakan bahwa yang dimaksud oleh al-Wasithi ini
adalah peristiwa ketika Abu Bakr ash-Shiddiq menginfakan seluruh hartanya
kepada Rasulullah untuk perjuangan di jalan Allah. Saat Rasulullah bertanya
kepadanya: “Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?” Abu Bakr ash-Shiddiq
menjawab: “Yang tersisa bagi keluargaku hanya Allah dan Rasul-Nya”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 168-169.
Peristiwa besar yang juga
merupakan citra tertinggi dalam tauhid, tafrîd dan tawakal dari sahabat
Abu Bakr yang menjadi teladan agung bagi kaum sufi di kemudian hari adalah
ketika Rasulullah meninggal. Saat itu hampir seluruh sahabat tidak dapat
menahan diri karena pengaruh dari musibah wafatnya Rasulullah. Bahkan sahabat
Umar ibn al-Khattab sampai menghunuskan pedang kepada orang yang mengatakan
bahwa Rasulullah telah meninggal. Namun pengaruh tersebut tidak ada pada diri
Abu Bakr. Bahkan beliaulah yang menenangkan seluruh sahabat dalam pidatonya
yang sangat monumental: “Wahai sekalian manusia, siapa yang menyembah Muhammad
maka ia telah meninggal dan siapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Dia
Maha Hidup dan tidak akan meninggal”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 168.
[4] Selain itu citra tawakal
ini juga terpancar dari Umar ibn al-Khattab yang dalam sebuah riwayat
disebutkan bahwa saat perang Uhud, saudara kandungnya; Zaid ibn al-Khththab
tidak memakai baju besi. Umar berkata kepadanya: “Jika engkau mau pakailah baju
besi ini!”. Namun ternyata saudara kandungnya tersebut menjawab dengan
keyakinan dan tawakal yang kuat seperti yang ada pada diri Umar sendiri: “Saya
juga ingin mendapatkan mati syahid seperti halnya dirimu”. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Umar ibn al-Khattab
suatu ketika berkata di hadapan orang-orang Islam: “Ikhsyawsyinû Wa Tama’dadû”; “Biasakanlah oleh kalian hidup dalam kesulitan dan
kegersangan [Khusyunah al-‘Aisy artinya meninggalkan
kenikmatan-kenikmatan duniawi], dan biasakanlah oleh kalian mencontoh Ma’ad ibn
‘Adnan; (Salah seorang kakek Rasulullah yang sangat disegani dan terhormat pada
kaumnya, dan beliau adalah seorang yang selalu meninggalkan
kesenangan-kesenangan duniawi)”. Dan terdapat banyak riwayat lainnya yang menceritakan sikap
zuhud sahabat Umar ibn al-Khattab, di antaranya disebutkan suatu ketika beliau menyampaikan
khutbah di hadapan orang-orang Islam, namun beliau hanya mengenakan pakaian
yang lusuh yang telah ditambal hingga dua belas jahitan, dan ternyata hanya
itulah harta yang beliau miliki. Padahal saat itu beliau seorang pemimpin yang
memiliki kekuasaan sangat luas, karena saat itu beliau menjabat sebagai
khalifah bagi orang-orang Islam. Kemudian diriwayatkan dalam suatu kesempatan
Umar ibn al-Khattab berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang mau
membuka aibku”. Dalam riwayat lain disebutkan suatu ketika beliau mencabut
suatu tumbuhan kecil, lalu ia berkata: “Andaikan aku tidak dilahirkan oleh
ibuku, andaikan aku hanya sebatang tumbuhan ini, andaikan aku bukan sebagai
apapun”. Dalam riwayat lainnya diceritakan bahwa suatu ketika beliau didatangi
seseorang yang mengadukan kemiskinannya, sahabat Umar berkata kepadanya:
“Apakah untuk nanti malam engkau memiliki makanan?” Orang tersebut menjawab:
“Iya saya memilikinya, namun hanya untuk nanti malam saja”. Umar berkata
kepadanya: “Kalau begitu engkau bukan seorang yang fakir”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 174-175.
[6] Tentang sifat semacam Utsman ibn Affan ini, Sahl ibn Abdullah al-Tustari menyatakan bahwa
mungkin saja ada seorang hamba Allah yang memiliki kekayaan dunia yang sangat
luas, namun pada saat yang sama ia juga merupakan orang yang paling zuhud di
antara hamba-hamba Allah tersebut. Sifat semacam ini juga terdapat pada sosok
khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah ini memisahkan antara minyak lampu milik
pribadinya dengan minyak lampu miliki maslahat kaum muslimin. Beliau meletakan
minyak lampu miliki peribadinya hanya di dalam tiga ruas bambu. Berpakaian dan
bertempat tinggal ala kadarnya. Padahal saat itu kekuasaan Bani Umayyah dengan
segala kekayaannya berada dalam genggamannya. Termasuk yang menunjukan citra ma’rifah, tawakal,
istiqamah dan Quwwah at-Tamkîn pada sosok Utsman ibn Affan adalah
peristiwa pada hari terbunuhnya beliau sendiri. Dalam keadaan yang sangat
genting dan berbagai fitnah yang terjadi di sekelilingnya, sama sekali beliau
tidak mengizinkan bagi siapapun untuk berperang. Dan beliau sendiri tetap
istiqamah pada tempat duduknya tidak bergeming sedikitpun, bahkan beliau
meletakan al-Qur’an dalam pangkuannya dan membacanya. Hingga tetesan darah dari
tubuhnya terjatuh di atas QS. Al-Baqarah: 138, “Fa sa yakfîkahumullâh”. al-Sarraj,
al-Luma’…, h. 174
[8] Tentang perumpamaan
hakekat iman, sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata: “Iman dalam hati terpancar laksana noktah putih. Jika
iman tersebut bertambah terus maka hati akan bertambah putih. Dan bila iman
tersebut telah sempurna maka sempurna pula noktah putih di dalam hati.
Sementara kemunafikan laksana noktah hitam di dalam hati. Semakin bertambah
kemunafikan tersebut maka semakin bertambah noktah hitam dalam hati. Dan bila
kemunafikan telah sempurna maka sempurna pula noktah hitam dalam hati tersebut. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 179.
[10] Diriwayatkan pula bahwa
suatu ketika Rasulullah mendatangi Ali ibn Abi Thalib untuk menjenguknya.
Tiba-tiba Rasulullah mendapati menantu yang dicintainya tersebut sedang
tertidur dengan hanya beralaskan tanah yang berdebu. Dan karena peristiwa
inilah Rasulullah kemudian memberikan gelar kepadanya Abu Turab. Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa ketika Ali ibn Abi Thalib meninggal terbunuh
sebagai syahid, lalu al-Hasan; putra
beliau tiba-tiba naik mimbar di Kufah, seraya berkata: “Wahai sekalian orang
Islam, Amîr al-Mu’minîn telah terbunuh dihadapan kalian. Demi Allah
beliau tidak meninggalkan suatu apapun dari dunia ini kecuali 400 dirham, dan
uang tersebut sebenarnya sudah ia keluarkan untuk membeli seorang budak agar ia
berkhidmah kepadanya. Dalam riwayat lain disebutkan suatu ketika Ali ibn Abi
Thalib berkata kepada Umar ibn al-Khattab: “Jika engkau ingin menemui kedua
sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakr) maka jadikanlah bajumu memiliki tambalan-tambalan,
jahit sandalmu dengan tanganmu sendiri, pendekanlah angan-anganmu, dan makanlah
dengan tanpa pernah kenyang”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 181.
[12] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 183. Sifat-sifat para sahabat inilah yang dijadikan
rujukan, teladan, dan landasan pokok dalam disiplin tasawuf oleh para ulama
sufi di kemudian hari. Karena itu, berbagai maqâmât dan berbagai ahwâl
yang dikenalkan oleh para ulama sufi kepada kita sekarang ini bukan hanya
nama-nama tanpa isi, bukan sesuatu yang baru, dan bukan bid’ah sesat seperti
yang diklaim oleh golongan yang antipati.
Daftar Pustaka
al-Qur’an
al-Karîm.
Ardani, Moh.. 1995. Al
Qur’an dan Sufisme Mangkunagara IV: Studi Serat-serat Piwulang. Yogyakarta:
Dana Bhakti Wakaf.
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah
(w 430 H), Hilyah al-Auliyâ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr,
Bairut
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali ibn Hajar, Fath
al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq
Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dâr al-Hadîts, 1998 M
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats
ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq
Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M.
Baghdadi, al, Abu Manshur ‘Abd al-Qahir ibn
Thahir ( W 429 H), al-Farq Bain al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3,
1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Baihaqi, al, Abu Bakr ibn al-Husain ibn ‘Ali
(w 458 H), al-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakr ibn as-Sayyid
Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh
Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât
al-Marâm Min ‘Ibârât al-Imâm, tahqîq Yusuf ‘Abd al-Razzaq
(Dosen Usuluddin al-Azhar Cairo), cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa
al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahih
al-Bukhari, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dzahabi, al, Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman,
Abu Abdillah, Syamsuddin, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syau’ib
al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah al-Risalah,
1413 H.
_________, Mizân al-I’tidâl Fi Naqd
al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan ‘Adil Ahmad ‘Abd
al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
Dimyathi, al, Abu Bakr as-Sayyid Bakri ibn
as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj
al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t.
th.
Endah
Susilantini, Titi
Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral kepengarangan KGPAA Mangku Negara IV,
editor Lindyastusi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad
ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’in Fi Ushul al-Dîn, cet.
1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad,
Dar al-Fikr, Bairut
Haitami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki,
Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhain,
Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf,
Abu Abdurrahman, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001,
Dar al-Masyari’, Bairut.
Ibn Balabban, Muhammad ibn Badruddin ibn
Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh
Ibn Hibban, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Ibn al-Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman ibn
al-Jauzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban,
Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
_________, Shayd al-Khâthir, tahqîq
Usamah as-Sayyid, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah. Cet. 4, Bairut
Ibn as-Subki, Abu Nashr Tajuddin Abdul Wahhab
ibn Ali ibn ‘Abd al-Kafi (w 771 H), Thabaqât asy-Syafi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abdul Fattah Muhammad al-Huluw dan Mahmud Muhammad ath-Thanji, t. th, Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Iyadl, Abu al-Fadl ‘Iyyâdl ibn Musa ibn Iyadl
al-Yahshubi, al-Syifâ Bi Ta’rif Huqûq al-Musthafâ, tahqîq
Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa
al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshir
Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiah Min al-Firaq al-Hâlikin, ta’lîq
Muhammad Zâhid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abdul Qadir ibn Musa ibn Abdullah,
Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub
al-Bukhari, Abu Bakr (w 380 H), al-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf,
tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah
al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1976. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartodirdjo,
Sartono, dkk.. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Kartodirdjo, Sartono.
1992. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia.
Magnis-Suseno,
Franz. 1999. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan
Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Dîn,
Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât
al-Auliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj,
al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404 H.
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu
Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjaj,
Cairo, al-Maktab al-Tsaqafi, 2001 H.
Qusyairi, al, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim ibn
Hawazan an-Naisaburi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf
Zuraiq dan ‘Ali ‘Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Rifa’i, al, Abu al-’Abbas Ahmad ar-Rifa’i
al-Kabir ibn al-Sulthan ‘Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1,
1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, al, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr
al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghaib, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, al, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq
‘Abd al-Halim Mahmud dan Thaha ‘Abd al-Bâqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah
al-Diniyyah, Cairo Mesir
Sya’rani, al, Abdul Wahhab, ath-Thabaqât
al-Qubrâ, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn
Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq
Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub
al-‘Arabiyyah, t. th.
Suhrawardi, al, Awârif al-Ma’ârif, Dar
al-Fikr, Bairut
Syahrastani, al, Muhammad ‘Abd al-Karim ibn
Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil
al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, al, Abu Abdurrahman Muhammad Ibn
al-Husain (w 412 H), Thabaqat ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa
Abdul Qadir ‘Atha, Mansyurat ‘Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, al, Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi
Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail,
Bairut.
Thabarani, al, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub,
Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf
Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
Tirmidzi, al, Muhammad ibn Isa ibn Surah
as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, t. th.
Web:
Web resmi Kerajaan Mangkunegara; http://www.mangkunegara4.org/
Comments
Post a Comment