Ajaran Tasawuf di Masa al-Khulafâ’ al-Râsyidîn


Walau penamaan tasawuf belum dikenal pada awal-awal kemunculan Islam, namun ajaran-ajaran yang diusung dalam tasawuf adalah ajaran-ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits. Karena itu kita mendapati prilaku-prilaku kaum sufi hampir sepenuhnya diambil dari prilaku-prilaku Rasulullah dan para sahabatnya. Sikap zuhud yang ditradisikan oleh kaum sufi bukan sesuatu yang baharu atau sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam Islam. Justru sebaliknya, apa-pun yang dilakukan oleh kaum sufi adalah sebagai bentuk pengamalan yang menyeluruh terhadap ajaran-ajaran Islam itu sendiri.
Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) (النازعات)
“Dan adapun orang yang takut akan tuhannya dan ia mencegah diri dari hawa nafsunya maka surga adalah tempat kembalinya”. (QS. al-Nâzi’ât: 40-41)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah berpesan kepada sahabat Mu’adz ibn Jabal:
إيّاكَ وَالتّنَعُّمَ فَإنّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوْا بِالْمُتَنَعِّمِيْنَ (روَاهُ الطّبَرَانيّ)
“Hindarilah olehmu untuk bersenang-senang, karena para hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang bersenang-senang”. (HR. al-Thabarani)
Secara praktis prilaku-prilaku zuhud yang dilakukan oleh kaum sufi sebenarnya merupakan ajaran-ajaran yang telah dipraktekan oleh Rasulullah sendiri di hadapan para sahabatnya. Kita mendapati gambaran tentang pribadi Rasulullah sebagai makhluk Allah yang paling mulia bahwa beliau adalah sosok yang sangat lemah lembut, kebanyakan waktunya duduk bersama orang-orang fakir, miskin, janda-janda renta dan memenuhi kebutuhan mereka, menengok orang-orang yang sakit dari mereka, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri, menjahit sandal dan pakaian yang robek dengan tangan sendiri, memerah susu kambing atau binatang lainnya dengan tangan sendiri, bila menunggang unta atau tunggangan lainnya tidak segan untuk memboncengkan pembantunya atau seorang hamba sahaya bersamanya, tidak pernah menolak bila diminta darinya suatu apapun dari harta dunia, berpakaian sangat sederhana, terkadang tidur dengan hanya beralaskan tikar dari daun-daun kurma yang kasar, dan berbagai sifat zuhud lainnya. Padahal beliau adalah makhluk Allah yang paling dicintai oleh-Nya dan paling dimuliakan[1].
Demikian pula sikap zuhud ini telah dipraktekan oleh para sahabat Rasulullah yang notabene teladan bagi kehidupan orang-orang Islam secara keseluruhan. Para sahabat tersebut adalah orang-orang yang telah dijanjikan oleh Allah untuk mendapatkan keridlaan-Nya, Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (التوبة: 100)
“Dan orang-orang terkemuka dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang mengikuti mereka dengan kebaikan Allah telah meridlai mereka dan mereka telah meridlai Allah”. (QS. al-Taubah: 100)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
أصْحَابِيْ كَالنّجُوْمِ بِأيّهِمْ اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ (رَوَاهُ البَيهَقِيّ)
“Para Sahabatku laksana bintang-bintang, dengan manapun kalian mengikuti maka kalian akan mendapatkan petunjuk”. (HR. al-Baihaqi)
Al-Sarraj dalam al-Luma’ menyatakan bahwa para sahabat Rasulullah adalah sebagai teladan bagi setiap pribadi muslim, baik secara zahir maupun secara batin. Teladan secara zahir jelas tersuratkan dalam beberapa hadits Rasulullah. Artinya secara kasat mata teladan dan keutamaan tersebut dapat terlihat. Salah satunya dalam sebuah hadits, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang paling tinggi dalam sifat kasih dan sayang adalah sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq, yang paling kuat dalam agama Allah adalah sahabat Umar ibn al-Khattab, yang paling banyak memiliki sifat malu adalah sahabat Utsman ibn Affan, yang paling ahli dalam farâ-idl (hukum waris) adalah sahabat Zaid ibn Tsabit, yang paling mengetahui tentang hukum halal dan haram adalah sahabat Mu’adz ibn Jabal, yang paling ahli dalam qirâ’at adalah sahabat Ubay ibn Ka’ab, yang paling bijaksana dalam menentukan hukum adalah Ali ibn Abi Thalib, dan yang paling jujur adalah sahabat Abu Dzarr. (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, dan al-Thabarani). Selain teladan secara zahir, para sahabat Rasulullah tersebut juga sebagai teladan bagi setiap pribadi muslim secara batin. Artinya bahwa terdapat teladan-teladan yang merupakan rahasiah-rahasiah tersirat pada pribadi-pribadi para sahabat tersebut[2].
Di bawah ini kita akan melihat kehidupan al-Khulafâ’ al-Râsyidîn yang merupakan para pemimpin terkemuka dalam sejarah Islam yang akan tetap berlaku sebagai teladan sepanjang masa, bahwa kehidupan mereka penuh dengan ajaran-ajaran tasawuf. Tentang keharusan bagi kita untuk menjadikan mereka sebagai teladan, Rasulullah bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنّتِيْ وَسُنّةِ الْخُلَفَاءِ الرّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ (رَوَاه التّرْمِذِيّ)
“Handaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah al-Khulafâ’ al-Râsyidîn sesudahku yang telah mendapatkan petunjuk”. (HR. al-Tirmidzi)
Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq diriwayatkan bahwa suatu ketika berkata:
“Terdapat tiga ayat dalam al-Qur’an yang telah benar-benar tertanam dalam hatiku dibanding ayat-ayat lainnya. Pertama adalah firman Allah:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (الأنعام: 17)
“Jika Allah berkehendak menimpakan kepadamu akan suatu marabahaya maka tidak ada siapapun yang dapat menghindarkan marabahaya tersebut kecuali Dia, dan jika Allah berkehendak kepadamu akan suatu kebaikan maka Dia maha kuasa di atas segala sesuatu”. (QS al-An’am: 17).
Dari ayat ini aku mengetahui bahwa siapapun yang berkehendak akan kebaikan bagiku maka tidak akan ada yang dapat menahan kebaikan tersebut kecuali Allah. Dan siapapun yang berkehendak kepadaku untuk membuat marabahaya maka tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya kecuali Allah. Kedua adalah firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: 152)
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengingat kalian” (QS. al-Baqarah: 152).
Karena ayat ini maka aku selalu menyibukan diri dengan dzikir kepada Allah dari pada mengingat hal-hal apapun. Ketiga adalah firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (هود: 6)
“Dan tidak ada suatu apapun yang melata di bumi kecuali atas Allah ketentuan rizki mereka”. (QS. Hud: 6).
Setelah membaca ayat ini, demi Allah, sedikitpun aku tidak merasa risau dengan masalah rizki.[3]
Selain teladan pada sahabat Abu Bakr, pada sosok sahabat Umar ibn al-Khattab juga terdapat teladan yang sangat agung yang menjadi tumpuan kaum sufi di kemudian hari. Beliau adalah sahabat yang digelari oleh Rasulullah sebagai seorang yang al-Muhaddats dan al-Mukallam. Artinya beliau memiliki karamah yang sangat agung; ialah dikaruniai kekuatan firasat. Bukti konkrit dari karamah ini adalah peristiwa Sariyah ibn Zunaim yang sedang berperang melawan orang-orang kafir di daerah Nahawand. Saat itu Umar ibn al-Khattab sedang  menyampaikan khutbah di hadapan orang-orang Islam di Madinah. Di tengah-tengah khutbahnya tiba-tiba Umar berteriak: “Yâ Sâriyah, al-Jabal..., al-Jabal...!”. Umar memerintahkan Sariyah dan pasukannya untuk berlindung di pegunungan dari serbuan orang-orang kafir. Perintah Umar tersebut didengar dan dipatuhi oleh Sariyah dan tentaranya hingga meraih kemenangan. Padahal jarak Kota Madinah dan Nahawand beratus kilometer.
Dalam citra tawakkal yang merupakan salah satu pijakan kuat kaum sufi, diriwayatkan bahwa sahabat Umar ibn al-Khattab suatu ketika berkata:  “Tidak ada musibah sebesar apapun yang menimpaku, kecuali aku telah dikaruniai oleh Allah akan empat hal terkait dengan musibah tersebut. Yaitu bahwa musibah tersebut tidak menimpa dalam urusan agamaku, musibah tersebut tidak memberikan pengaruh kepadaku, dan aku selalu memiliki sikap ridla dalam menghadapinya, serta aku selalu mengharapkan mendapatkan pahala dari adanya musibah tersebut”[4].
Al-Sarraj berkata:
“Para ahli hakekat dari kaum sufi banyak mengambil teladan dari sahabat Umar ibn al-Khattab, di antaranya bahwa beliau hanya berpakaian yang telah banyak tambalan, terbiasa hidup sulit (menghindarkan diri dari kenikmatan), meninggalkan segala syahwat dan hawa nafsu diniawi, menghindarkan segala yang samar (syubhat), memiliki banyak karamah, tidak peduli terhadap cacian saat menegakan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, menyeragamkan hak orang lain baik keluarga dekat maupun jauh, memegang teguh ketaatan walau yang paling keras sekalipun, dan menghindari segala keburukan walau yang paling sulit sekalipun, serta  berbagai sifat lainnya”[5].
Selain sahabat Umar ibn al-Khattab, dalam diri sahabat Utsman ibn Affan juga terdapat banyak pelajaran yang kemudian dijadikan referensi oleh para ulama sufi. Citra tertinggi yang menjadi rujukan kaum sufi dari sosok Utsman ibn Affan adalah kekuatan keteguhan (Quwwah at-Tamkîn). Sifat ini, sebagaimana dinyatakan al-Sarraj, merupakan salah satu derajat tertinggi dalam tingkatan ahwâl kaum sufi. Tanda seseorang dalam tingkatan ahwâl ini adalah ia lebih menyenangi untuk mendermakan apa yang ia miliki kepada orang lain dari pada menahannya bagi dirinya sendiri.
Citra Quwwah at-Tamkîn inilah yang ada pada sosok Utsman ibn Affan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah membiayai bala tentara orang-orang Islam, bahkan membeli sumur Roumah yang kemudian disadaqahkannya bagi kemaslahatan seluruh orang-orang Islam. Oleh karena sifat ini, Utsman ibn Affan kemudian mendapatkan jaminan dari Rasulullah dalam sabdanya:
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا فَعَلَ بَعْدَ هَذَا (رَوَاهُ البُخَارِيّ وَالتّرمِذِيّ)
“Tidak akan membuat bahaya terhadap Utsman apapun yang ia kejakan setelah ini”. (HR. al-Bukhari dan al-Tirmidzi).
Benar bahwa Utsman ibn Affan adalah salah seorang sahabat yang diberi karunia oleh Allah dengan rizki yang cukup luas, namun sedikitpun jiwa beliau tidak terkait dengan apa yang ada di tangannya tersebut. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau suatu ketika menitipkan satu kantong penuh berisikan uang 1000 dirham kepada salah seorang budaknya untuk disampaikan kepada sahabat Abu Dzarr. Utsman berkata kepada budak tersebut: “Jika ia (Abu Dzarr) telah menerima pemberianku ini maka engkau menjadi merdeka”. Ini menunjukan Quwwah at-Tamkîn yang ada pada pribadi Utsman. Sebab prilaku semacam ini tidak akan pernah nampak kecuali dari seorang yang telah memiliki citra ma’rifah, tawakal, istiqamah dan kayakinan yang sangat kuat kepada Allah[6].
Demikian pula referensi ahwâl dari sosok sahabat Ali ibn Abi Thalib sangat banyak terpancar. Bahkan Ali ibn Abi Thalib merupakan sosok sentral dalam perjalanan tasawuf, karena beliau merupakan salah satu pucuk sanad yang mengambil dari Rasulullah dalam rangkaian mata rantainya. Karenanya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang menjadi sumber ajaran tasawuf berasal dari sahabat Ali ibn Abi Thalib, walaupun di masanya beliau banyak disibukan dengan berbagai peperangan menghadapi kaum pemberontak. Tentang ini  al-Junaid al-Baghdadi berkata: “Seandainya Ali ibn Abi Thalib tidak disibukan dengan peperangan maka ia akan memberikan pelajaran kepada kita dari ahwâl-nya lebih banyak lagi. Karena beliau adalah seorang yang telah dikarunia al-‘Ilm al-Ladunni. Dan al-‘Ilm al-Ladunni adalah ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada al-Khadlir”[7].
Bahkan dalam penilaian al-Sarraj bahwa orang yang pertama kali secara gamblang berbicara tentang maqâmât dan ahwâl yang kemudian menjadi bagian krusial dalam kajian tasawuf adalah sahabat Ali ibn Abi Thalib. Di antara maqâmât yang sangat urgen dan menjadi rujukan kaum sufi adalah perkataan beliau tentang tauhid. Bahwa suatu ketika Ali ibn Abi Thalib ditanya: “Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?”. Dengan jawaban yang sangat lugas beliau berkata:
“Aku mengenal Tuhanku sebagaimana Dia memperkenalkan tentang Diri-Nya kepadaku. Bahwa Dia tidak menyerupai bentuk apapun [artinya Allah bukan benda], Dia tidak dapat diraih dengan indra, Dia tidak dapat dikiyaskan dengan manusia, Dia dekat pada jauh-Nya dan jauh pada dekat-Nya [artinya ada tanpa tempat dan tanpa arah], Dia di atas segala sesuatu dan tidak ada apapun di bawah-Nya, Dia di bawah segala sesuatu dan tidak ada apapun di atas-Nya, Dia di hadapan segala sesuatu dan tidak ada suatu apapun di hadapan-Nya [artinya Alah tidak diliputi oleh enam arah penjuru], Dia tidak seperti suatu apapun, Dia bukan dari suatu apapun, Maha Suci Dia yang memiliki sifat semacam ini. Dan sifat-sifat-Nya ini tidak dimiliki oleh siapapun, selain Dia”[8].
Diriwayatkan pula bahwa suatu ketika, Ali ibn Abi Thalib berdiri di hadapan timbunan harta kas negara. Seraya berkata: “Wahai barang kuning (yang dimaksud adalah emas), wahai barang putih (perak), kalian berdua tidak akan dapat mengelabui diriku!!”[9].
Juga diriwayatkan bahwa seringkali sahabat Ali ibn Abi Thalib ini bekerja dengan tangannya sendiri untuk mendapatkan upah. Terkadang upah yang beliau raih adalah hanya segenggam kurma yang kemudian oleh beliau sendiri dibawa ke hadapan Rasulullah untuk dimakan bersamanya[10].
Dalam satu kesempatan sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata:
“Segala kebaikan terkumpul dalam empat perkara; diam (ash-Shamt), bicara (an-Nuthq), melihat (an-Nazhar) dan bergerak (al-Harakah). Setiap pembicaraan yang bukan dalan dzikir kepada Allah maka itu adalah sebuah kesia-siaan belaka. Setiap diam yang bukan dalam tafakkur maka itu adalah sebuah kealfaan. Setiap penglihatan yang tidak mengambil pelajaran di dalamnya maka itu adalah sebuah kelalaian. Dan setiap gerak yang bukan dalam ibadah kepada Allah maka itu adalah pemborosan waktu. Maka hamba yang mendapat rahmat Allah adalah yang menjadikan bicaranya adalah dzikir, diamnya adalah tafakkur, pandangannya adalah mengambil pelajaran, dan geraknya adalah ibadah, serta seluruh manusia selamat dari tindakan tangan dan lidahnya”[11].
Demikian pula praktek ajaran-ajaran tasawuf telah dicontohkan oleh para sahabat lainnya. Simak misalkan sabda Rasulullah kepada salah seorang sahabatnya, Bilal ibn Rubah:
أنْفِقْ يَا بِلاَلُ وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِي اْلعَرْشِ إقَلاَلاً (رَوَاهُ الطّبَرَانِيّ وأبُوْ نُعَيْمٍ)
“Nafkahkanlah hartamu wahai Bilal, janganlah engkau takut kefakiran dari Tuhan Pemiliki Arsy”. (HR. al-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Dalam kisah lain kita mendapati salah seorang sahabat nabi yang memberikan makanan kepada tentangganya walau ia sendiri dalam keadaaan lapar. Ia menganggap bahwa tetangganya lebih berhak atas makanan tersebut. Namun tetangganya yang juga lapar memberikan makanan itu kepada tetangganya yang lain, karena menganggap tetangganya tersebut lebih berhak dari dirinya. Lalu tetangganya tersebut memberikannya kepada tetangganya yang lain lagi, dan demikian seterusnya berputar hingga makanan tersebut kembali tangan yang pertama. Tentang sifat-sifat para sahabat nabi tersebut Allah berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ (الحشر: 9)
“Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun dalam diri mereka sangat membutuhkan”. (QS al-Hasyr: 9)
Kemudian perhatikan pula pernyataan sahabat Abu Hurairah ketika menggambarkan Ahl al-Shuffah, komunitas sahabat nabi dari kaum Muhajirin yang sama sekali tidak memiliki harta benda. Abu Hurairah menyebutkan bahwa mereka seringkali bergeletakan di tanah karena lapar dan dahaga yang mereka rasakan, hingga orang-orang Arab baduy menganggap mereka orang-orang yang telah gila. Inilah sikap mendahulukan akhirat (al-Itsâr ‘Alâ al-Âkhirah) yang telah dicontohkan oleh para sahabat[12]. 



[1] Dalam sebuah hadits diriwayatkan ketika sahabat Umar ibn al-Khattab masuk ke rumah Rasulullah, ia mendapati Rasulullah baru bangun dari tidur, sementara pada bahunya terdapat bekas dari tikar kasar yang beliau jadikan alas untuk tidurnya tersebut. Melihat kondisi ini sahabat Umar menangis. Ketika ditanya oleh Rasulullah apa yang membuatnya menangis, sahabat Umar menjawab: “Saya teringat Kaisar Romawi dengan segala kemewahan kerajaannya, Hurmuz dengan kebesaran kerajaannya, serta raja Habasyah dan kebesaran kekuasaannya, sementara engkau yang padahal utusan Allah hanya tidur di atas tikar yang terbuat dari daun kurma yang kasar!”. Rasulullah menjawab: “Tidakkah engkau ridla bahwa mereka memiliki dunia, sementara kita memiliki akhirat?!”. (HR. Ibn al-Mundzir dari sahabat Ikrimah). al-Sarraj, al-Luma’…, h. 19-20
[2] Contoh yang paling konkrit seperti yang dinyatakan oleh Abu Utbah al-Hulwani, berkata: “Maukah kalian aku beritahukan apa yang menjadi keinginan para sahabat Rasulullah di masa mereka hidup?! Pertama; Mereka lebih menyenangi untuk segera bertemu Allah dari pada menjalani hidup (artinya menyenangi kematian). Ke dua; Mereka tidak pernah merasa gentar saat menghadapi musuh, baik dalam jumlah yang sedikit maupun jumlah besar. Ke tiga; Mereka sedikitpun tidak memiliki kekhawatiran terhadap dunia, meraka adalah orang-orang yang penuh kepercayaan dalam masalah rizki kepada Allah. Ke empat; Jika didatangi musibah paceklik atau wabah penyakit mereka tidak bergeser sedikitpun dari tempat mereka hingga Allah menentukan apa yang telah dikehendaki-Nya atas mereka, dan mereka sama sekali tidak takut kepada kematian karenanya. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 166-167
[3] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 171-172. Hakekat tauhid, tafrîd, dan tawakal juga benar-benar tercermin dalam perilaku sahabat Abu Bakr. Salah seorang sufi kenamaan; Abu Bakr al-Wasithi mengatakan bahwa istilah-istilah yang berkembang di kalangan kaum sufi pertama kali muncul adalah ungkapan yang keluar dari lidah sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq. Dari ungkapan sahabat Abu Bakr inilah di kemudian hari para ulama sufi mengambil hikmah-hikmah dan istilah-istilah yang terkadang tidak dipahami oleh orang-orang yang berakal yang bukan dari komunitas mereka. Al-Sarraj mengatakan bahwa yang dimaksud oleh al-Wasithi ini adalah peristiwa ketika Abu Bakr ash-Shiddiq menginfakan seluruh hartanya kepada Rasulullah untuk perjuangan di jalan Allah. Saat Rasulullah bertanya kepadanya: “Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?” Abu Bakr ash-Shiddiq menjawab: “Yang tersisa bagi keluargaku hanya Allah dan Rasul-Nya”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 168-169.
Peristiwa besar yang juga merupakan citra tertinggi dalam tauhid, tafrîd dan tawakal dari sahabat Abu Bakr yang menjadi teladan agung bagi kaum sufi di kemudian hari adalah ketika Rasulullah meninggal. Saat itu hampir seluruh sahabat tidak dapat menahan diri karena pengaruh dari musibah wafatnya Rasulullah. Bahkan sahabat Umar ibn al-Khattab sampai menghunuskan pedang kepada orang yang mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal. Namun pengaruh tersebut tidak ada pada diri Abu Bakr. Bahkan beliaulah yang menenangkan seluruh sahabat dalam pidatonya yang sangat monumental: “Wahai sekalian manusia, siapa yang menyembah Muhammad maka ia telah meninggal dan siapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Dia Maha Hidup dan tidak akan meninggal”. al-Sarraj, al-Luma’…,  h. 168.
[4] Selain itu citra tawakal ini juga terpancar dari Umar ibn al-Khattab yang dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat perang Uhud, saudara kandungnya; Zaid ibn al-Khththab tidak memakai baju besi. Umar berkata kepadanya: “Jika engkau mau pakailah baju besi ini!”. Namun ternyata saudara kandungnya tersebut menjawab dengan keyakinan dan tawakal yang kuat seperti yang ada pada diri Umar sendiri: “Saya juga ingin mendapatkan mati syahid seperti halnya dirimu”. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Umar ibn al-Khattab suatu ketika berkata di hadapan orang-orang Islam: “Ikhsyawsyinû Wa Tama’dadû”; “Biasakanlah oleh kalian hidup dalam kesulitan dan kegersangan [Khusyunah al-‘Aisy artinya meninggalkan kenikmatan-kenikmatan duniawi], dan biasakanlah oleh kalian mencontoh Ma’ad ibn ‘Adnan; (Salah seorang kakek Rasulullah yang sangat disegani dan terhormat pada kaumnya, dan beliau adalah seorang yang selalu meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi)”. Dan terdapat banyak riwayat lainnya yang menceritakan sikap zuhud sahabat Umar ibn al-Khattab, di antaranya disebutkan suatu ketika beliau menyampaikan khutbah di hadapan orang-orang Islam, namun beliau hanya mengenakan pakaian yang lusuh yang telah ditambal hingga dua belas jahitan, dan ternyata hanya itulah harta yang beliau miliki. Padahal saat itu beliau seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan sangat luas, karena saat itu beliau menjabat sebagai khalifah bagi orang-orang Islam. Kemudian diriwayatkan dalam suatu kesempatan Umar ibn al-Khattab berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang mau membuka aibku”. Dalam riwayat lain disebutkan suatu ketika beliau mencabut suatu tumbuhan kecil, lalu ia berkata: “Andaikan aku tidak dilahirkan oleh ibuku, andaikan aku hanya sebatang tumbuhan ini, andaikan aku bukan sebagai apapun”. Dalam riwayat lainnya diceritakan bahwa suatu ketika beliau didatangi seseorang yang mengadukan kemiskinannya, sahabat Umar berkata kepadanya: “Apakah untuk nanti malam engkau memiliki makanan?” Orang tersebut menjawab: “Iya saya memilikinya, namun hanya untuk nanti malam saja”. Umar berkata kepadanya: “Kalau begitu engkau bukan seorang yang fakir”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 174-175.
[5] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 174
[6] Tentang sifat semacam Utsman ibn Affan ini,  Sahl ibn Abdullah al-Tustari menyatakan bahwa mungkin saja ada seorang hamba Allah yang memiliki kekayaan dunia yang sangat luas, namun pada saat yang sama ia juga merupakan orang yang paling zuhud di antara hamba-hamba Allah tersebut. Sifat semacam ini juga terdapat pada sosok khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah ini memisahkan antara minyak lampu milik pribadinya dengan minyak lampu miliki maslahat kaum muslimin. Beliau meletakan minyak lampu miliki peribadinya hanya di dalam tiga ruas bambu. Berpakaian dan bertempat tinggal ala kadarnya. Padahal saat itu kekuasaan Bani Umayyah dengan segala kekayaannya berada dalam genggamannya. Termasuk yang menunjukan citra ma’rifah, tawakal, istiqamah dan Quwwah at-Tamkîn pada sosok Utsman ibn Affan adalah peristiwa pada hari terbunuhnya beliau sendiri. Dalam keadaan yang sangat genting dan berbagai fitnah yang terjadi di sekelilingnya, sama sekali beliau tidak mengizinkan bagi siapapun untuk berperang. Dan beliau sendiri tetap istiqamah pada tempat duduknya tidak bergeming sedikitpun, bahkan beliau meletakan al-Qur’an dalam pangkuannya dan membacanya. Hingga tetesan darah dari tubuhnya terjatuh di atas QS. Al-Baqarah: 138, “Fa sa yakfîkahumullâh”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 174
[7] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 179
[8] Tentang perumpamaan hakekat iman, sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata: “Iman dalam hati terpancar laksana noktah putih. Jika iman tersebut bertambah terus maka hati akan bertambah putih. Dan bila iman tersebut telah sempurna maka sempurna pula noktah putih di dalam hati. Sementara kemunafikan laksana noktah hitam di dalam hati. Semakin bertambah kemunafikan tersebut maka semakin bertambah noktah hitam dalam hati. Dan bila kemunafikan telah sempurna maka sempurna pula noktah hitam dalam hati tersebut. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 179.
[9] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 181
[10] Diriwayatkan pula bahwa suatu ketika Rasulullah mendatangi Ali ibn Abi Thalib untuk menjenguknya. Tiba-tiba Rasulullah mendapati menantu yang dicintainya tersebut sedang tertidur dengan hanya beralaskan tanah yang berdebu. Dan karena peristiwa inilah Rasulullah kemudian memberikan gelar kepadanya Abu Turab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Ali ibn Abi Thalib meninggal terbunuh sebagai syahid, lalu  al-Hasan; putra beliau tiba-tiba naik mimbar di Kufah, seraya berkata: “Wahai sekalian orang Islam, Amîr al-Mu’minîn telah terbunuh dihadapan kalian. Demi Allah beliau tidak meninggalkan suatu apapun dari dunia ini kecuali 400 dirham, dan uang tersebut sebenarnya sudah ia keluarkan untuk membeli seorang budak agar ia berkhidmah kepadanya. Dalam riwayat lain disebutkan suatu ketika Ali ibn Abi Thalib berkata kepada Umar ibn al-Khattab: “Jika engkau ingin menemui kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakr) maka jadikanlah bajumu memiliki tambalan-tambalan, jahit sandalmu dengan tanganmu sendiri, pendekanlah angan-anganmu, dan makanlah dengan tanpa pernah kenyang”. al-Sarraj, al-Luma’…, h. 181.
[11] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 182
[12] al-Sarraj, al-Luma’…, h. 183. Sifat-sifat para sahabat inilah yang dijadikan rujukan, teladan, dan landasan pokok dalam disiplin tasawuf oleh para ulama sufi di kemudian hari. Karena itu, berbagai maqâmât dan berbagai ahwâl yang dikenalkan oleh para ulama sufi kepada kita sekarang ini bukan hanya nama-nama tanpa isi, bukan sesuatu yang baru, dan bukan bid’ah sesat seperti yang diklaim oleh golongan yang antipati. 


Daftar Pustaka

al-Qur’an al-Karîm.

Ardani, Moh.. 1995. Al Qur’an dan Sufisme Mangkunagara IV: Studi Serat-serat Piwulang. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah (w 430 H), Hilyah al-Auliyâ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali ibn Hajar, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dâr al-Hadîts, 1998 M
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M.
Baghdadi, al, Abu Manshur ‘Abd al-Qahir ibn Thahir ( W 429 H), al-Farq Bain al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3, 1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Baihaqi, al, Abu Bakr ibn al-Husain ibn ‘Ali (w 458 H), al-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakr ibn as-Sayyid Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât al-Imâm, tahqîq Yusuf ‘Abd al-Razzaq (Dosen Usuluddin al-Azhar Cairo), cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahih al-Bukhari, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dzahabi, al, Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman, Abu Abdillah, Syamsuddin, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syau’ib al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah al-Risalah, 1413 H.
_________, Mizân al-I’tidâl Fi Naqd al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
Dimyathi, al, Abu Bakr as-Sayyid Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t. th.
Endah Susilantini, Titi Mumfangati, Suyami, Konsep Sentral kepengarangan KGPAA Mangku Negara IV, editor Lindyastusi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1997
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’in Fi Ushul al-Dîn, cet. 1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia   
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, Dar al-Fikr, Bairut
Haitami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki, Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhain, Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf, Abu Abdurrahman, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001, Dar al-Masyari’, Bairut.
Ibn Balabban, Muhammad ibn Badruddin ibn Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh Ibn Hibban, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Ibn al-Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman ibn al-Jauzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban, Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
_________, Shayd al-Khâthir, tahqîq Usamah as-Sayyid, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah. Cet. 4, Bairut
Ibn as-Subki, Abu Nashr Tajuddin Abdul Wahhab ibn Ali ibn ‘Abd al-Kafi (w 771 H), Thabaqât asy-Syafi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq Abdul Fattah Muhammad al-Huluw dan Mahmud Muhammad ath-Thanji, t. th, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Iyadl, Abu al-Fadl ‘Iyyâdl ibn Musa ibn Iyadl al-Yahshubi, al-Syifâ Bi Ta’rif Huqûq al-Musthafâ, tahqîq Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshir Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiah Min al-Firaq al-Hâlikin, ta’lîq Muhammad Zâhid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abdul Qadir ibn Musa ibn Abdullah, Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub al-Bukhari, Abu Bakr (w 380 H), al-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Kartodirdjo, Sartono, dkk.. 1976. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartodirdjo, Sartono, dkk.. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kartodirdjo,  Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Magnis-Suseno, Franz. 1999. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Dîn, Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât al-Auliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj, al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404 H.
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjaj, Cairo, al-Maktab al-Tsaqafi, 2001 H.
Qusyairi, al, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim ibn Hawazan an-Naisaburi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf Zuraiq dan ‘Ali ‘Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Rifa’i, al, Abu al-’Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir ibn al-Sulthan ‘Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1, 1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, al, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghaib, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, al, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq ‘Abd al-Halim Mahmud dan Thaha ‘Abd al-Bâqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah al-Diniyyah, Cairo Mesir
Sya’rani, al, Abdul Wahhab, ath-Thabaqât al-Qubrâ, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, t. th.
Suhrawardi, al, Awârif al-Ma’ârif, Dar al-Fikr, Bairut
Syahrastani, al, Muhammad ‘Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, al, Abu Abdurrahman Muhammad Ibn al-Husain (w 412 H), Thabaqat ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, Mansyurat ‘Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, al, Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail, Bairut.
Thabarani, al, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub, Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
Tirmidzi, al, Muhammad ibn Isa ibn Surah as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t. th.
Web:

Web resmi Kerajaan Mangkunegara; http://www.mangkunegara4.org/

Comments

Popular posts from this blog

Cook preparing delicious pasta

ANALISIS PENGANGKATAN ANAK MENURUT HUKUM ISLAM DAN UU NO. 23 TAHUN 2002